Tak Hanya Teori, Workshop Anti-Bullying UNIKAMA Bekali Aksi Nyata bagi 180 Mahasiswa PPG

MALANG – Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) sukses mengadakan workshop anti-bullying bertema “Edukasi, Pencegahan, dan Aksi Nyata Mewujudkan Lingkungan yang Aman dan Nyaman di Sekolah.” Kegiatan ini setara dengan 5 Jam Pelatihan (JP) dan digelar di Auditorium UNIKAMA pada Sabtu (18/4/2026). Sebanyak 180 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) ikut berpartisipasi dengan antusias.

Workshop ini terasa berbeda dari biasanya karena hanya menghadirkan satu narasumber utama, yaitu Ketua Satgas PPKPT UNIKAMA, Ibu Leny Latifah, M.Pd., Kons. Beliau membahas isu bullying secara menyeluruh, mulai dari pengertian, berbagai jenis perundungan (fisik, verbal, sosial, hingga cyber bullying), dampaknya bagi kondisi psikologis, sampai cara pencegahannya di lingkungan sekolah.

Dalam pemaparannya, Leny menekankan pentingnya peran mahasiswa PPG sebagai calon guru. Menurutnya, guru punya posisi kunci dalam menghentikan rantai perundungan di sekolah. Ia juga menyampaikan bahwa bullying bukan lagi dianggap kenakalan biasa, melainkan masalah serius yang perlu penanganan menyeluruh. Melalui workshop ini, para calon guru dibekali pemahaman agar bisa menjadi pelindung sekaligus pendeteksi pertama bagi siswa.

Selama tiga jam, penyampaian materi berlangsung interaktif. Tidak hanya mendengarkan, peserta juga diajak praktik langsung, seperti simulasi teknik relaksasi untuk menangani kasus bullying. Saat sesi diskusi, mahasiswa terlihat sangat aktif, bahkan mengangkat isu yang jarang dibahas, seperti perlindungan bagi guru yang menjadi korban bullying dan cara mengenali siswa yang mengalami perundungan.

Menanggapi hal tersebut, Leny memberikan apresiasi atas keberanian peserta. Ia menjelaskan bahwa guru juga berhak mendapatkan perlindungan, baik secara hukum maupun psikologis, sesuai dengan regulasi terbaru seperti Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 tentang PPKS. Jika guru mengalami perundungan, baik dari siswa, orang tua, maupun rekan kerja, hal tersebut bisa dilaporkan ke pihak sekolah atau Dinas Pendidikan.

Selain itu, Leny juga menekankan pentingnya kepekaan guru dalam mengenali tanda-tanda siswa yang menjadi korban bullying. Misalnya perubahan sikap dari ceria menjadi pendiam, nilai yang menurun, sering izin tanpa alasan jelas, atau munculnya luka yang tidak wajar. Guru juga disarankan lebih aktif memantau lingkungan sekolah, seperti kantin, lapangan, atau area lain, untuk melihat dinamika sosial siswa secara langsung.

Dengan bekal yang didapat dari workshop ini, 180 mahasiswa PPG UNIKAMA diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.

About the Author: ppks

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *